Festival Erau, dari Pesta Rakyat Ke Perhelatan Budaya Internasional

Tradisi tahunan ini telah berlangsung selama berabad-abad, seiring perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

erbicara tentang Kutai Kartanegara tak akan lengkap tanpa menyinggung pesta rakyat tahunan yang berlangsung di dalamnya, Erau. Erau merupakan salah satu festival budaya tertua di nusantara. Tradisi tahunan ini telah berlangsung selama berabad-abad, seiring perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Bisa dikatakan, Erau telah berlangsung sejak masa awal Kesultanan Kutai berdiri.

Istilah “erau” berasal dari kata “eroh” yang dalam bahasa Melayu Kutai Tenggarong bermakna keramaian pesta ria atau secara umum dapat dimaknai sebagai pesta rakyat. Dahulu, Erau merupakan hajatan besar bagi Kesultanan Kutai dan masyarakat di seluruh wilayah kekuasaannya yang kini mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Timur. Pada awalnya, perhelatan ini berlangsung selama 40 hari 40 malam dan diikuti oleh segenap lapisan masyarakat.

Pembukaan Festival Erau diwarnai dengan persembahan tari kolosal yang representasikan berbagai etnis yang ada di Kutai
Erau kembali dilangsungkan sejak 1971 atas izin Kesultanan sebagai sarana pelestarian budaya
Erau di masa kini menjadi ajang pelestarian budaya warisan Kesultanan Kutai dan berbagai etnis di dalamnya
Persembahan atraksi terjun payung oleh Kopassus pada pembukaan Festival Erau 2013
Pelaksanaan Erau sempat berhenti seiring perubahan status Kutai dari daerah istimewa menjadi kabupaten, menandai berakhirnya era Kesultanan
Festival Erau dimeriahkan dengan aneka kesenian, upacara adat dan lomba olahraga ketangkasan tradisional
Dinyalakannya brong oleh Sultan Kutai, Gubernur Kaltim, dan Bupati Kutai menandai dibukanya gelaran Festival Erau 2013
Kontingen dari Korea Selatan dalam Erau International Folklore Festival (EIFAF) 2013
Meski kekuasaan Kesultanan Kutai telah berakhir, Erau sebagai peninggalan budaya Kesultanan tetap bertahan
Seiring zaman, Erau berkembang dari pesta rakyat warga Kutai menjadi festival budaya internasional

Erau kembali dilangsungkan sejak 1971 atas izin Kesultanan sebagai sarana pelestarian budayaErau di masa kini menjadi ajang pelestarian budaya warisan Kesultanan Kutai dan berbagai etnis di dalamnyaDalam ajang Erau International Folklore and Art Festival, budaya lokal Kutai bersanding dengan berbagai bangsaPenampilan dari kontingen asal Taiwan yang tidak mau ketinggalan ikut serta dalam EIFAF 2013Persembahan atraksi terjun payung oleh Kopassus pada pembukaan Festival Erau 2013Pelaksanaan Erau sempat berhenti seiring perubahan status Kutai dari daerah istimewa menjadi kabupaten, menandai berakhirnya era KesultananFestival Erau dimeriahkan dengan aneka kesenian, upacara adat dan lomba olahraga ketangkasan tradisionalDinyalakannya brong oleh Sultan Kutai, Gubernur Kaltim, dan Bupati Kutai menandai dibukanya gelaran Festival Erau 2013Kontingen dari Korea Selatan dalam Erau International Folklore Festival (EIFAF) 2013Di masa lalu, Erau merupakan hajatan besar dimana rakyat dari penjuru Kesultanan Kutai berkumpul di ibukota TenggarongMeski kekuasaan Kesultanan Kutai telah berakhir, Erau sebagai peninggalan budaya Kesultanan tetap bertahanSeiring zaman, Erau berkembang dari pesta rakyat warga Kutai menjadi festival budaya internasionalPembukaan Festival Erau diwarnai dengan persembahan tari kolosal yang representasikan berbagai etnis yang ada di KutaiKontingen budaya dari Mesir yang turut memeriahkan penyelenggaraan EIFAF 2013

Dalam perhelatan tersebut, rakyat dari berbagai penjuru negeri berpesta ria dengan mempersembahkan sebagian dari hasil buminya untuk dibawa ke Ibukota Kesultanan. Hal ini berkaitan dengan salah satu fungsi dari Erau sebagai wujud rasa syukur atas limpahan hasil bumi yang diperoleh rakyat Kutai. Keluarga besar Kesultanan pun menjamu rakyatnya dengan beraneka sajian sebagai bentuk rasa terima kasih atas pengabdian mereka kepada Kesultanan.

Menurut riwayat yang diyakini masyarakat Kutai secara turun temurun, Erau bermula sejak abad ke-12 Masehi. Catatan sejarah menyebutkan Erau pertama kali berlangsung saat Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia belia. Ia dikemudian hari diangkat menjadi sultan pertama Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Seiring perjalanan waktu, Kesultanan Kutai kemudian bergabung dalam wilayah Republik Indonesia. Sampai dengan tahun 1960, Kutai berstatus Daerah Istimewa dengan Sultan sebagai kepala daerah. Setelahnya, status Kutai beralih menjadi kabupaten dan kepala pemerintahan dipegang oleh bupati. Peralihan ini menjadi penanda berakhirnya era Kesultanan Kutai yang telah berdiri selama lebih dari 7 abad. Meski demikian, Erau sebagai salah satu peninggalan budaya dari Kesultanan Kutai tetap bertahan.

Erau yang dilangsungkan menurut tata cara Kesultanan Kutai terakhir kali diadakan pada tahun 1965. Kemudian, atas inisiatif pemerintah daerah dan izin dari pihak Kesultanan, tradisi ini mulai dihidupkan kembali pada tahun 1971. Hanya saja, penyelenggaraannya tidak satu tahun sekali melainkan menjadi dua tahunan dan dengan beberapa persyaratan. Sejak saat itulah pelaksanaan Erau menjadi ajang pelestarian budaya warisan Kesultanan Kutai dan berbagai etnis yang hidup di dalamnya.

Erau dilangsungkan bertepatan dengan hari jadi Kota Tenggarong, yaitu setiap tanggal 29 September. Tetapi, sejak tahun 2010, pelaksanaan festival ini dimajukan menjadi Bulan Juli karena menyesuaikan dengan musim liburan sehingga lebih banyak wisatawan yang datang. Festival ini dimeriahkan oleh beraneka kesenian, upacara adat dari Suku-suku Dayak, dan lomba olahraga ketangkasan tradisional.

Tahun 2013 menjadi penanda era baru dari pelestarian budaya warisan Kutai Kartanegara. Untuk pertama kalinya, Erau disandingkan dengan perhelatan budaya tradisional dari berbagai negara. Dalam perhelatan bernama Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF), berbagai contoh kesenian dan tradisi di lingkup Kesultanan Kutai bersanding dengan warisan budaya dunia dari berbagai bangsa di penjuru dunia. Ajang ini sekaligus memperkenalkan peninggalan kearifan lokal masyarakat Kutai kepada dunia. Para delegasi dari berbagai negara diundang untuk ikut terlibat dalam berbagai ritual adat yang berlangsung selama pelaksanaan Erau.

Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/festival-erau-dari-pesta-rakyat-ke-perhelatan-budaya-internasional/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *