Mengenal Adji Batara Agung: Tokoh Penting Terlahirnya Tradisi Erau

Erau di tanah Kutai, primadona budaya yang mendunia. Sebuah upacara adat yang penyelenggaraannya di mulai dari tahun 1300-an ini memang menarik untuk dibahas. 

Tidak hanya ke-khidmatan, namun upacara adat Erau ini juga begitu meriah. Bersebab melihat serangkaian acaranya, keakraban para warga yang terlihat begitu erat dalam ikatan kekeluargaan, menciptakan kehangatan dan kemeriahnnya tersendiri.

Namun, jika bercerita tentang upacara adat Erau, tak lengkap rasanya tanpa membicarakan seorang tokoh penting yang menjadi cikal bakal lahirnya tradisi ini.

Dialah Sang Maharaja Adji Batara Agung Dewa Sakti. 

Meski dalam hikayat-hikayat Kutai yang bercerita tentang Adji Batara Agung, banyak sekali mengandung legenda. Yang mungkin hanya terkesan dongeng. Namun masih tersisip nilai-nilai sejarahnya.

Jika kita berkiblat kepada cerita-cerita rakyat. Dikisahkan jika para dewa menitipkan Adji Batara Agung saat ia masih bayi, kepada suami-istri petinggi Jaitan Layar. Dari cerita ini diyakinilah oleh beberapa masyarakat, bahwa Adji Batara Agung adalah titisan dari dewa.

Menurut hikayat-hikayat dan naskah-naskah yang membahas tentang Adji Batara Agung, perayaan upacara adat Erau, sudah diselenggarakan di saat Adji Batara Agung masih kecil.

Terhitung ketika Adji Batara Agung berusia 5 tahun, perayaan upacara adat Erau mulai diselenggarakan. Jika kembali kepada cerita rakyat, hal ini disebabkan karena para Dewa menyuruh kedua orang tua Adji Batara Agung untuk membuat sebuah perayaan (Erau). 

Maka selama 40 hari 40 malam dilakukanlah ritual-ritual perayaan, dimulai dengan upacara tijak tanah dan mandi ke tepian. Masyarakat diundang dan disuguhi berbagai macam makanan. Gamelan Gajah Pertawa ditabuh sepanjang perayaan, memeriahkan upacara.

Meski awalnya upacara Erau berlangsung selama 40 hari 40 malam, namun kini, tradisi tersebut hanya berlangsung 8 hari 8 malam.

Perayaan Erau ini dilaksanakan pula saat Adji Batara Agung dinobatkan sebagai Raja Kesultanan Kutai Pertama. Lalu seiring berjalannya waktu, di setiap pergantian dan penobatan raja baru, perayaan ini diselenggarakan kembali.

Raja Adji Batara Agung kelak akan menikah dengan Putri Karang Melenu, yang juga erat kaitannya dengan perayaan upacara adat Erau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *