Mengenal Lebih dalam Rangkaian Upacara Adat Erau: Mengulur Naga

Dalam rangkaian upacara adat Erau, ada salah satu ritual yang begitu ikonik. Yakni, ritual mengulur naga. 

Ritual dari upacara adat Erau ini erat kaitannya dengan legenda Raja Adji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Karang Melenu. Dua pasangan yang kemudian menjadi keluarga Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Dalam hikayat-hikayat Kutai, disebutkan jika keduanya bukanlah manusia biasa. Diceritakan jika keduanya lahir dengan keadaan di luar logika.

Disebutkan jika Raja Adji Batara Agung adalah titisan dari para dewa. Dalam legendanya, ada dua pasangan petinggi Jaitan Layar yang mendambakan sesosok buah hati. 

Berhari-hari dua pasangan itu memohon kepada Dewa agar mereka dikaruniai seorang anak. Hingga pada suatu malam, si istri petinggi Jaitan Layar mendengar suara dari luar rumahnya. Kemudian ia keluar, lalu melihat seorang bayi yang terbaring dengan menggenggam sebutir telur dan sebilah keris emas.

Kemudian diceritakan pula turunnya tujuh dewa, dan menjelaskan bahwa anak itu berasal dari kahyangan. Tak lupa para Dewa itu pun mengingatkan agar dalam mengurus anak tersebut harus dibedakan dengan anak pada umumnya.

Di sisi lain, Putri Karang Melenu pun diceritakan terlahir dengan keadaan di luar logika. Dalam cerita rakyat yang beredar, Putri Karang Melenu muncul dari pusaran air secara misterius dari Sungai Mahakam. Dia terbaring di sebuah gong yang dibawa oleh seekor naga.

Kembali kepada ritual mengulur naga. Dua replika naga dalam upacara adat Erau ini adalah representasi dari kisah Putri Melenu tadi lho. Dibuat sebelum upacara adat dilaksanakan.

Kepala dan ekor replika naga ini dibuat menggunakan kayu, sedangkan badannya terbuat dari rangka rotan serta bambu. Di bagian badannya tersebut diselimuti oleh kain berwarna kuning dan dihiasi perca warna-warni sebagai perlambangan sisiknya. Replika naga ini memiliki panjang sekitar 31,5 meter. 

Kedua naga ini dinamai “Naga Laki” dan “Naga Bini”.

Proses ritualnya adalah dengan membawa kedua naga itu dari Keraton Kutai menuju Kutai Lama. Kedua replika naga tersebut akan dinaikan ke atas perahu dan akan singgah ke beberapa tempat terlebih dahulu. 

Gunanya untuk memberi kesempatan kepada “Belian” atau pria ahli mantra dalam upacara adat ini, serta para “Dewa” atau ahli mantra dari kalangan wanita bisa berkomunikasi dengan roh leluhur. 

Hingga sesampainya di Jaitan Layar, Kutai Lama, perahu akan berputar sebanyak tujuh kali. Setelah selesai, perahu akan merapat ke tepian. Pada saat itu kepala dan ekor replika naga tersebut dipisahkan. Bagian kepala dan ekor dibawa kembali ke Keraton, guna Festival Erau pada tahun selanjutnya.

Sedangkan untuk tubuh replika naga itu dilaboh atau diturunkan dari atas kapal ke bawah sungai. Masyarakat percaya bahwa bagian sisik dari naga itu akan dapat mewujudkan impian. Maka dari itu masyarakat berlomba untuk mendapatkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *