Mengenal Lebih dalam Rangkaian Upacara Adat Erau: Ritual Merangin

Upacara adat Erau, menjadi salah satu pesona Kutai Kartanegara. Bukan hanya masyarakat dalam negeri yang antusias menghadiri upacara adat ini, namun bahkan masyarakat dari berbagai macam belahan dunia pun turut hadir ke dalamnya.

Uniknya, dalam upacara adat Erau ini, ternyata tidak hanya mengundang masyarakat dari kalangan manusia, lho. Tapi juga mengundang makhluk gaib! Wah, unik ya.

Pemanggilan makhluk gaib dan roh leluhur dalam upacara Erau ini dimulai saat ritual Menjamu Benua lalu dilanjutkan hingga ritual Merangin.

Ritual Merangin adalah ritual pendahuluan wajib, menjelang upacara adat Erau, bertujuan mengundang makhluk gaib agar dapat ikut serta dalam kemeriahan Erau.

Untuk ritual Merangin akan digelar selama tiga malam. Dalam ritual ini melibatkan 7 orang Belian sebuah sebutan untuk pria ahli Mantera. Serta 7 orang Dewa sebuah sebutan untuk wanita ahli Mantera.

Di malam pertama ritual Merangin, para Belian dan Dewa akan memberitahu makhluk gaib yang berada di langit bahwa sebentar lagi upacara adat Erau akan diselenggarakan.

Lalu di malam ritual Merangin mempunyai tujuan memberitahu makhluk gaib yang berada di tanah. 

Dan terakhir di malam ketiga ritual Merangin bertujuan untuk memberitahu makhluk gaib yang berada di air. Di hari ini juga, para makhluk gaib ini dikumpulkan.

Dalam ritual ini akan diawali dengan pembacaan oleh salah satu dari tujuh Belian. Diikuti pemimpin Dewa yang membakar kemenyan serta sesekali menghambur beras kuning.

Dalam ritual ini pun ada yang disebut Binyawan. Binyawan ialah alat utama dalam ritual Merangin. Alat ini berbentuk tiang yang terbuat dari bambu, lalu dibalut oleh janur kuning. Di bagian atasnya terdapat sebuah replika seekor burung Enggang. Dan di bawah terdapat replika seekor kura-kura.

Ritual ini semakin berkesan ketika bunyi tetabuhan gendang serta gong mengalun berirama, rasa magis semakin terasa dalam ritual ini. Seiring ketukan, 7 orang Belian mulai berputar memegangi Binyawan.

Di sisi lain, 7 orang  Dewa melemparkan beras kuning ke arah para Belian.

Setelah rangkaian ritual awal itu berakhir, maka dilanjutkan dengan tarian para Dewa yang menari dengan lemah gemulai. Tarian para Dewa ini sekaligus mengakhiri ritual Merangin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *