Tak lengkap rasanya jika hanya menceritakan legenda lahirnya Raja Adji Batara Agung, kamu juga harus tahu legenda mengenai lahirnya sang permaisuri, yakni Putri Karang Melenu.
Sama halnya dengan Adji Batara Agung, sang istri, Putri Karang Melenu pun bukan manusia sembarang.
Mengutip hikayat-hikayat tanah Kutai, kelahiran Putri Karang Melenu pun sungguh di luar logika. Uniknya, cerita-cerita yang melatarbelakangi tradisi upacara adat Erau ini, amat sangat menarik untuk diketahui.
Dikisahkan dalam hikayat-hikayat tanah Kutai, tentang hidupnya sepasang suami istri di Desa Melanti, Hulu Dusun. Sang suami (tidak disebutkan namanya di dalam hikayat) adalah seorang Petinggi Hulu Dusun yang hidup hanya berdua dengan istri, yakni Babu Jaruma.
Keduanya sudah cukup tua, namun mereka masih belum dikaruniai seorang pun anak. Dua suami istri ini sebetulnya sangat ingin mempunyai buah hati, hingga setiap hari mereka berdoa kepada Dewa.
Di satu waktu, di Desa Melanti, cuaca amat buruk hingga tujuh hari tujuh malam lamanya.
Hujan terus menerus, petir menyambar-nyambar mengerikan, dengan iringan guntur bergemuruh. Tak satu pun warga berani keluar rumah. Termasuk Babu Jaruma dan istrinya.
Di hari ketujuh, di rumah petinggi Hulu Dusun, dilihatnya sisa makanan di dapur oleh Babu Jaruma. Sayangnya, tak ada sebiji kayu bakar pun untuk bisa menanak beras.
Disebabkan cuaca yang buruk, suami Babu Jaruma tak berani keluar rumah. Terpaksalah oleh si suami memotong kasau di rumahnya.
Saat memotong-motong kasau menjadi bagian kecil, tersibak seekor ular kecil di dalamnya. Karena kasihan, ular tersebut dipelihara oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Bahkan sampai dianggap anak oleh mereka.
Singkat cerita, ular kecil tersebut kian lama kian membesar. Ajaibnya, ular kecil tadi kini bukan lagi seekor ular, melainkan menjadi seekor naga.
Pada suatu hari, si suami bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang cantik jelita. Dalam mimpi itu, si wanita memperkenalkan dirinya sebagai anak dari Babu Jaruma dan suaminya. Wanita tersebut meminta agar diturunkan.
Terbangun dari mimpi, si suami menceritakan semua mimpinya kepada Babu Jaruma. Diputuskanlah oleh kedua suami istri tersebut untuk menurunkan seekor naga yang telah dianggapnya anak itu.
Saat naga itu menuruni tangga lalu ia berjalan menuju sungai Mahakam. Babu Jaruma dan suaminya pergi untuk mengikuti naga tersebut. Dilihatnya naga itu berenang memutar 7 kali berturut-turut dan barulah menuju ke tepian. Di tepian sebuah batu, naga itu berenang 3 kali ke kiri dan kanan lalu terjun ke dasar sungai.
Seketika sungai Mahakam berbuih, langit berubah menjadi gelap, guntur menggelegar memecahkan gendang telinga. Suami istri itu seketika mencari perahu lalu menaikinya, dibawa oleh mereka menuju sang naga terakhir kali terlihat.
Setelah mendekat, terdengarlah seorang bayi menangis. Karena rasa penasaran, Babu Jaruma bersama suaminya, mendekati sumber suara.
Betapa terkejutnya suami istri itu, karena ditemuinya oleh mereka cahaya di dalam sebuah gong yang menaungi seorang bayi perempuan yang kelak akan dipanggil Putri Karang Melenu.
