Tentang Kami

Kenali lebih jauh tentang Erau & Kesultanan Kutai

indonesia.go.id

Pengenalan Singkat Erau & Kesultanan Kutai

Erau Kartanegara adalah festival budaya dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Erau sendiri adalah festival yang sudah ada dari tahun 1300. Dikutip dari Kemendikbudristek (2011) Erau berasal dari kata eroh yang berarti ribut, sukacita, riang gembira. Mengutip pernyataan perwalian Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martapura, Bapak Adji Dana, Erau juga berasal dari teberau, artinya ramai menyerebak menyeluruh. Erau pertama kali diselenggarakan untuk penobatan Adji Batara Agung sebagai raja. Selain Adji Batara Agung Dewa Sakti, Putri Karang Melenu menjadi yang erat kaitannya dengan cerita asal-muasal Erau. Adji Putri Karang Melenu meruapakan istri Adji Batara Agung Dewa Sakti. 

Festival Erau terdiri dari 8 hari 8 malam dengan serangkain ritual. Tentunya, persiapan festival Erau dimulai dari sebulan sebelumnya. Persiapan sebelum erau dimulai adalah melaksanakan menjamu benua (kota). Menjamu benua adalah prosesi untuk mengundang leluhur. Selain prosesi mengundang leluhur, mengundang Kemudian, membuat 2 naga jantan dan betina untuk persiapan Belimbur yang biasanya dilaksanakan pada hari akhir penututpan Erau.

Penjelasan Logo

Terisnpirasi dari mahkota yang dikenakan oleh Sultan Aji Muhamad Sulaiman pada 1845-1899. Terbuat dari emas dan batu permata, mahkota yang dikenakan oleh Sultan Kutai Kartanegara bernama Ketopong. Ketopongberbentuk mahkota brunjungan dengan bagian muka yang berbentuk meru bertingkat. Ketopong dihiasi motif spiral yang dikombinasikan dengan motif sulur. Tulisan ’Erau Kartanegara’ dibentuk dengan ketopong menggunakan dasar perpaduan warna kuning dan biru yang diambil dari warna logo Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadpura.

Penjelasan Maskot

Maskot dari Erau Kartanegara terinspirasi dari Lembuswana. Nama lainnya adalah Lambuswana, Lembusana, atau Embuswana. Lembuswana atau dikenal juga dengan nama Paksi Liman Jonggo Yokso berwujud binatang lembu atau sapi yang memiliki sayap seperti elang, bertaji seperti ayam, bertaring seperti singa, dan berbelalai seperti gajah. Diyakini masyarakat Kutai Kartanegara sebagai penjaga hutan dan alam Kalimantan Timur yang megah. 

Makhluk mitologi ini juga bersisik seperti naga, serta bermahkota bagaikan seorang raja. Lembuswana muncul sebagai sosok berkilauan keemasan yang menjadi simbol penting dalam sejarah daerah tersebut. ring dikaitkan dengan kisah kelahiran Putri Karang Melenuyang bersama makhluk mitologis ini muncul dari dasar Sungai Mahakam. Putri tersebut kemudian menikah dengan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti, melahirkan penerus dinasti raja-raja Kutai Kartanegara.

Erau Adat Kutai International Folk Arts Festival (EIFAF)

Kabupaten Kutai Kartanegara adalah salah satu daerah tujuan wisata yang dikenal dengan berbagai peninggalan budaya, yaitu Kerajaan Kutai dan Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung. Peninggalan warisan budaya dari kerajaan yang masih hidup dan terjaga sampai sekarang, seolaholah memberi pesan dan kesan kepada generasi penerus bahwa di wilayah ini pernah ada kehidupan yang memiliki budaya tinggi.

Salah satu daya tarik event budaya yang dimiliki Kabupaten Kutai Kartanegara adalah Upacara Erau. Erau berasal dari bahasa lokal / daerah Etnis Kutai dan di sebut pula Eroh, yang berarti ramai, hilir mudik, bergembira, berpesta ria yang dilaksanakan secara adat oleh kesultanan / kerabat kerajaan dengan maksud atau hajat tertentu dan diikuti oleh masyarakat umum (menyeluruh) dalam wilayah administratif kesultanan. Dalam setiap pelaksanaan Upacara Erau akan mengambil salah satu tema dari tiga tema pelaksanaan Erau Adat dilingkup Keraton Kutai yaitu Erau Tepong Tawar, Erau Pelas Tahun, dan Erau Beredar di Kutai.

Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai pelaksana Upacara Erau akan menyelenggarakan berbagai upacara yaitu Beluluh Awal, Memberi makan Benua, Merangin, Mendirikan Ayu, Tarian Belian, Tarian Dewa, Tari Menurunkan Sanghiyang Sri Ganjur, Tari Memulangkan Sanghiyang Sri Ganjur, Menggorok Rendu, Mengundang Air, Menjemput/ ngalak Air, Tari Kanjarbini, Tari Kanjar laki, Mengambil / ngalak Air Tuli, Beluluh di keraton, bogorok, beumban, Rangga Titi, Mengulur Naga, Belimbur, Menyisik Lembusuana, Dewa Belian Menjala, Begelar, Seluang Mudik, Dewa Menjuluk Buah Bawal / Kamal, nyamper, dan di akhiri dengan Merebahkan Ayu.

Penyelenggaraan Upacara Erau tidak saja dimaksudkan sebagai sebuah ungkapan rasa syukur, tetapi berdimensi lebih luas yaitu guna melestarikan, mengembangkan adat istiad at, mengenalkan dan mempromosikan keluhuran warisan budaya dengan menggelar berbagai kegiatan dalam kalender event budaya daerah yang berlevel nasional maupun internasional. Sejak tahun 2013, Pemerintah Kabupatren Kutai Kartanegara dan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura bekerjasama melaksanakan Upacara Erau yang dipadukan dengan International Folklore And Art Festival. Event budaya ini dilaksanakan setiap tahun, yang kini bertajuk Erau Adat Kutai International Folk Arts Festival (EIFAF).

Peserta Erau Adat Kutai International Folk Arts Festival (EIFAF) adalah terdiri dari beberapa negara yang bergabung dalam anggota organisasi CIOFF (International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts). CIOFF adalah sekelompok perwakilan nasional non-profit festival seni lokal organisasi. Sebagai organisasi non-pemerintah, CIOFF adalah konsultatif berwenang untuk UNESCO. Organisasi CIOFF inilah yang mengurus pelestarian kebudayaan dan menjembatani hubungan antar bangsa melalui festival-festival kebudayaan rakyat.

Selama 8 (delapan) hari pelaksanaan EIFAF di Tenggarong, para peserta akan mengikuti dan terlibat aktif dalam berbagai jenis kegiatan upacara adat, parade, pertunjukan dan pertukaran seni budaya, pameran, city tour, dan konfrensi pers. Adapun agenda kegiatan EIFAF meliputi: kirab budaya, welcome dinner, parade peserta, mendirikan ayu, upacara pembukaan, pembukaan Kutai Kartanegara arts & crafts expo, jamuan makan siang, beluluh, bepelas malam I sampai malam ke VIII, pagelaran seni selama enam hari,lomba permainan dan olahraga tradisional, reception perwakilan EIFAF dengan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pembukaan Festival Kuliner, Kukar art and craft expo, beluluh, folklore & art streetperformance, workshop tari jepen Kutai, festival kuliner, beseprah, pembukaan lomba perahu naga, reception perwakilan EIFAF dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pembukaan lomba perahu ketinting, Kukar green, peragaan busana adat daerah Kutai, upacar mengulur naga, belimbur, Acara pelepasan peserta, upacara merebahkan ayu.

Setiap acara atau prosesi kegiatan yang akan dilaksanakan, baik itu upacara adat dan pembukaan EIFAF serta acara lainnya akan di hadiri Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, para Raja Nusantara, (Kemenkraf RI) Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, unsur muspida Provinsi Kalimantan Timur (Gubernur, Kapolda, Pangdam Mulawarman, Pengadilan Tinggi, Kejaksaan, Korem), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah / FKPD (Bupati Kutai Kartanegara, Kapolres, Kodim, Pengadilan Negeri, Kejaksaan), DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara, Bupati dan Walikota se-Kalimantan Timur, Presiden CIOFF, Tokoh Adat dan masyarakat serta Undangan lainnya.

Sumber: https://eifaf.visitingkutaikartanegara.com/kegiatan-eifaf